Sejarah Perbankan dan Berbagai Bank yang Hadir di Indonesia

Anda tentu banyak menemukan berbagai bank yang ada di tanah air saat ini. Tetapi apakah Anda pernah berpikir bagaimana sejarah perbankan di Indonesia? Atau apa saja bank yang ada di Indonesia sejak zaman dahulu? Bank merupakan lembaga resmi yang menawarkan jasa di bidang keuangan dalam bentuk peminjaman uang, penyimpanan uang, dan lain sebagainya. Menurut UUD, bank adalah badan usaha yang berfungsi untuk mengumpulkan uang dari masyarakat, menyimpannya dan menyalurkannya kembali ke masyarakat dalam bentuk kartu kredit dan bentuk lainnya demi meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Bank memang telah hadir di dunia sejak zaman dahulu baik di Babylonia, Romawi, Yunani Kuno, dan negara lainnya. Mengingat perannya yang cukup besar dalam bidang ekonomi, sangat wajar jika bank terus ada dan berkembang dari waktu ke waktu.

Bagaimana dengan di Indonesia? Sejarah perbankan di Indonesia bermula dari masa penjajahan Hindia Belanda. Seperti yang telah diketahui, bank memang pertama kali hadir di Eropa sehingga ketika bangsa Eropa datang ke Indonesia, budaya bank ikut tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Bank pertama yang didirikan di tanah air adalah De Javasche Bank, NV pada 24 Januari 1828 di Batavia (Jakarta tempo dulu).

Bank Belanda tersebut berperan sebagai pemegang monopoli dalam pembelian hasil bumi dari Indonesia yang dijual ke luar negeri. Setelah bank tersebut, beberapa bank Belanda lainnya ikut hadir di Indonesia seperti Hulp en Spaar Bank, De Postspaarbank, De Escompto Bank NV dan banyak lagi lainnya. Tak lama, warga pribumi turut mendirikan beberapa bank Indonesia seperti Batavia Bank, Bank Nasional Indonesia, NV Bank Boemi dan Bank Abuan Saudagar.

– Sejarah Perbankan Pemerintah Indonesia Saat Kemerdekaan

Setelah kepergian penjajah Belanda pada masa kemerdekaan Indonesia, perkembangan bank di Indonesia semakin pesat dan maju. Sejarah perbankan pada era kemerdekaan dimulai dari tindakan pemerintah yang menasionalisasi berbagai bank peninggalan Belanda sebelumnya. Bank milik Belanda yang pertama kali di nasionalisasi adalah Nationale Handelsbank (NHB) yang diubah menjadi Bank Umum Negara pada tahun 1959. Selanjutnya De Escompto Bank NV di nasionalisasi menjadi Bank Dagang Negara (BDN) pada tahun 1960.

 border=

Beberapa bank pemerintah akhirnya bermunculan di Indonesia seperti Bank Indonesia (BI) pada tahun 1951 yang berasal dari De Javasche Bank, Bank Tabungan Negara (BTN) pada tahun 1950 yang berasal dari De Post Paar Bank, Bank Negara Indonesia ’46 pada tahun 1968, Bank Bumi Daya yang berasal dari Nationale Hendles Bank dan banyak lainnya. Jadi sebenarnya, beberapa bank yang hadir di berbagai wilayah Indonesia hingga saat ini, semuanya adalah bank milik Belanda yang didirikan selama masa penjajahan.

– Sejarah Perbankan Indonesia dari Masa ke Masa

1. Masa Orde Baru

Sejarah perbankan pada masa Orde Baru bermula dari munculnya peraturan baru dalam bidang perbankan berupa Undang-Undang No. 14 tahun 1967. Dalam UU ini, pemerintah membuat sistem perbankan di Indonesia menjadi satu kesatuan baik pimpinan maupun sistem.

Semua bank swasta nasional yang ada di Indonesia dibina dan diawasi langsung oleh Bank Indonesia. Kebijakan ini dibuat untuk mengurangi jumlah bank swasta nasional yang dinilai terlalu banyak di Indonesia. Bank-bank yang menjadi sasaran pengurangan adalah bank skala kecil yang kurang mapan dari segi permodalan maupun manajemen. Terbukti, dalam kurun waktu sekitar 2 tahun saja yaitu 1971-1972, jumlah bank yang ada di Indonesia berkurang cukup banyak. Pada tahun 1983, BI memberikan kebebasan kepada bank-bank yang bertahan untuk menentukan suku bunga baik tabungan, deposito hingga kredit.

Pada masa Orde Baru, pemerintah juga mengeluarkan berbagai kebijakan ekonomi yang tentu juga berefek pada bank di Indonesia. Beberapa kebijakan tersebut adalah mengekang ekspansi kredit dari berbagai sektor, menerapkan anggaran belanja berimbang, melakukan pinjaman luar negeri, menunda pembayaran utang luar negeri, penanaman modal asing dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, Indonesia juga mulai bergabung ke berbagai institusi ekonomi dunia seperti International Monetary Fund (IMF), Asian Development Bank (ADB), dan lain-lain.

2. Masa Krisis Moneter

Sejarah perbankan pada masa krisis moneter bermula dari banyaknya bank baru yang bermunculan dengan berbagai syarat ketat yang harus dipenuhi seperti penerbitan sertifikat deposito, penyelenggaraan tabungan lain dan tabanas serta penyempurnaan aturan kesehatan bank. Penyempurnaan ini meliputi berbagai hal yaitu pembentukan cadangan piutang, CAR (Capital Adequacy Ratio), Loan to Deposit Ratio, Kredit Usaha Kecil dan Batas Maksimum Pemberian Kredit.

Pada periode 1992-1993, perbankan Indonesia mulai mengalami permasalahan berupa kredit macet yang menimbulkan beban kerugian pada bank. Keadaan ekonomi mulai memanas dan inflasi terus meningkat.

Pada tanggal 1 November 1997, sejarah perbankan mencatat kejadian porak porandanya struktur perbankan Indonesia sehingga mengakibatkan likuidasi terhadap 16 bank swasta nasional secara mendadak serta membuat kepanikan di masyarakat luas. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah mengatasi keadaan dengan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan langsung melakukan strukturisasi kembali bank-bank yang ada di dengan kerja sama pada pihak Bank Indonesia.

3. Masa Pasca Krisis Moneter

Untuk memulihkan keuangan pada masa krisis moneter, pemerintah memberikan kebijakan pengetatan rupiah melalui kenaikan suku bunga dan pengalihan dana dari bank swasta ke bank Indonesia. Tetapi sejarah perbankan justru mencatat bahwa kebijakan ini menimbulkan masalah lainnya yaitu melambungnya suku bunga yang diperparah dengan penarikan dana perbankan secara besar-besaran. Hasilnya, kelangsungan ekonomi nasional menjadi tergoncang dan macetnya sistem pembayaran.

Sejarah perbankan pada masa pasca krisis moneter mencatat tentang undangan pemerintah untuk IMF agar membantu pemulihan krisis ekonomi di Indonesia dan disetujuinya Lol 1 pada 31 Oktober 1997. Lol 1 berupa penjaminan pembayaran kembali dari pemerintah untuk para deposan. Cara ini tidak berhasil dan pemerintah kemudian membuat Lol 2 dan 3 yang berupa pembekuan 7 bank, penyelesaian hutang swasta dan stabilisasi nilai rupiah. Cara ini cukup berhasil sehingga dilanjutkan dengan program Lol 4 pada tahun 1998. Lol 4 berupa penyediaan Jaringan Pengaman Sosial (JPS) dan revisi atas target-target ekonomi.

Tersedianya berbagai kemudahan dan keuntungan dari bank-bank yang ada di Indonesia tidak akan tercapai tanpa adanya perjuangan keras. Anda bisa melihat proses yang begitu panjang dari mulai belum adanya bank di Indonesia hingga tersedianya berbagai bank saat ini. Berdasarkan sejarah perbankan di atas, hadirnya bank-bank yang berada di berbagai wilayah Indonesia ini tidak terlepas dari pengaruh bangsa Belanda. Semoga artikel ini bisa sedikit menambah wawasan dan membuka pikiran Anda.